Kamis, 29 Maret 2012


 Bagaimanakah sejarah berdirinya Gereja Methodist?
Aliran Methodist muncul di Inggris pada abad ke-18. Pemimpinnya adalah dua bersaudara John Wesley dan Charles Wesley (1703-1791). Mereka memimpin gerakan kebangunan rohani di Inggris dan kemudian mendirikan gereja Methodist. Aliran Methodist menandai bangkitnya semangat kebangunan rohani (revival) di Inggris yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Lahirnya gereja Methodist dilatarbelakangi oleh semangat pietisme. Pietisme lahir pada sekitar abad ke -17 sebagai reaksi atas kondisi gereja-gereja Anglican, Lutheran dan Calvinis (reformed) yang semakin kaku, dingin, tidak bergairah dan kurang menghargai manusia sebagai pribadi. Pada waktu itu umat merindukan sentuhan yang lebih mesra, spontan dan personal. Untuk mencapai tujuannya, kaum Pietis menekankan:
1.       Iman yang berpusat pada Alkitab ( bukan pada ajaran gereja)
2.       Pengalaman khas dalam kehidupan kristiani (rasa berdosa, pengampunan, pertobatan, kesucian dan kasih dalam persekutuan )
3.       Pengungkapan iman secara bebas melalui nyanyian, kesaksian dan semangat mengabarkan Injil.

Kendati Methodis memberontak terhadap gereja tradisional, namun gereja yang bersemangatkan pietisme ini masih terbuka pada ajaran dan praktek kristiani yang tradisional dan tidak bermusuhan dengan lembaga-lembaga induknya (gereja-gereja reformatoris). Kaum Pietis lebih banyak berkarya dengan menggunakan bentuk-bentuk yang lama sambil berupaya agar di dalamnya terhadap kehidupan roh. Di Inggris, Wesley melarang persekutuan Methodist membentuk gereja sendiri di luar gereja resmi yang ada. Beberapa tahun setelah John Wesley meninggal, barulah kaum Methodis memisahkan diri dari gereja Anglican.


Siapakah John Wesley dan Charles Wesley?

John dan Charles Wesley adalah anak Samuel Wesley, seorang pendeta Anglican. Kepribadian John dan Charles Wesley banyak dipengaruhi oleh ibunya, Susana Annesley. John Wesley menyelesaikan pendidikan teologi di Oxford College. Pada tahun 1728, John Wesley ditahbiskan menjadi imam (pendeta) di gereja Anglican. Ia kemudian bergabung dengan “Perhimpunan Kudus” (Holy Club) yang didirikan oleh Charles Wesley di Oxford. Hidup John Wesley berubah secara dramatis setelah mengalami pertobatan pada tanggal 24 Mei 1738. Saat itu ia sedang mengikuti persekutuan dan secara tiba-tiba ia merasa hatinya dihangatkan dan ia benar-benar mempercayakan dirinya pada KRISTUS. Pengalaman ini menjadi titik balik kehidupan Wesley sekaligus menyadarkannya bahwa banyak orang Inggris tidak memiliki iman dan kesucian. Sejak itu ia memulai rangkaian perjalanan penginjilan, menghimbau orang-orang agar memiliki iman kepada KRISTUS dan kesempurnaan sebagai anak-anak ALLAH. Ia menjalani hampir seluruh Inggris raya dengan menunggang kuda. Pada waktu itu banyak rohaniawan Anglican keberatan atas teknik kebangunan rohani yang digunakan Wesley, lalu tidak mengijinkan dia maupun pengikutnya berkotbah di gereja mereka. Karena itulah utuk menghimpun masyarakat yang tertarik atas pemberitaan mereka, Wesley sering menyelenggarakan pertemuan dalam bentuk Camp Meeting (pertemuan di perkemahan). Metode dan bentuk pertemuan ini kemudian menjadi tradisi di lingkungan Metodis.

Bagaimanakah selanjutnya perkembangan Gereja Methodist ?

Dari Inggris, Wesley mengirim utusan ke Amerika untuk membentuk sebuah organisasi gereja Methodist di sana. Selama satu abad (1820-1920) rumpun gereja Methodist di Amerika Serikat merupakan yang terbesar di lingkungan Protestan. Salah satu faktor atau kekuatan yang membuat gereja Methodist bisa menjadi gereja terbesar pada masa itu adalah ajarannya mengenai kesucian dan kesempurnaan hidup. Di tengah kemerosotan kualitas moral dan ketiadaan pegangan yang pasti di Amerika Serikat setelah perang saudara tahun 1860-an, paham dan gerakan kesucian yang menjadi ciri khas gereja Methodis memberi ketenangan dan kepuasan rohani bagi banyak orang.

Bagaimanakah sejarah gereja Methodist di Indonesia?

Aliran Methodist masuk Indonesia melalui Singapura dan Malaysia. Sejak akhir 1880-an sebenarnya sudah ada niat meluaskan pekabaran Injil ke Indonesia. Niat itu muncul setelah sejumlah pemuda Tionghoa maupun pribumi dari Jawa dan Sumatera datang bersekolah di sekolah-sekolah Methodist di Singapura dan Penang. Beberapa misionari meninjau Jawa, Kalimantan, Sumatera Timur, Tapanuli dan Sumatera selatan, termasuk pulau Bangka. Namun realisasinya baru tampak pada tahun 1905

Di Jawa, misi Methodist bekerja sejak tahun 1905. Seorang misionaris, J.R. Denyes dari Singapura membuka kursus bahasa Inggris dan sekolah di Bogor sebagai wahana penginjilan. Di Bogor didirikan jemaat Methodist pertama di Jawa dengan anggota sebagian besar dari kalangan Tionghoa. Dari Bogor, misi Methodist meluas hampir ke seluruh Jawa, menghasilkan sejumlah jemaat baru, sebagian besar di Jakarta dan sekitarnya tetapi ada juga di Surabaya dan sekitarnya. Sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa dan bahasa Inggris yang diselenggarakannya menjadi daya tarik yang sangat kuat dan seringkali menjadi motivasi utama bagi masyarakat peranakan Tionghoa untuk menjadi anggota gereja Methodist. Sejak tahun 1920, akibat keterbatasan daya dan dana, misi Methodist menghentikan pekerjaan di pulau Jawa. Jemaat-jemaat mantan asuhan misi Methodist di Jawa Barat yang ditinggalkan sejak 1920-an kemudian menjelma menjadi Gereja Kristus.

Pada tahun 1905, misi Methodist juga dilakukan di Sumatera. Di sana jemaat-jemaat Methodist berkembang dengan menjangkau kalangan Tionghoa dan berbagai suku pribumi terutama suku Batak. Gereja Methodist Indonesia (GMI) berdiri sendiri sejak 9 Agustus 1964 . GMI berpusat di Medan. Gereja ini mengasuh banyak sekolah yang terkenal kualitasnya. Setelah Indoensia merdeka, terutama sejak tahun 1960-an , GMI kembali hadir di Jawa terutama di Jakarta dan sekitarnya.

Bagaimanakah isi ajaran gereja Methodist?

Sebagai aliran yang berakar pada semangat revival, gereja-gereja Methodis ataupun yang berlatarbelakang Methodist tetap memelihara suasana kebangunan rohani. Adapun ajaran Methodisme didasarkan pada teologi Wesley yang berpusat pada anugerah keselamatan.

Beberapa pokok ajarannya , antara lain:
a.       Dosa Warisan
Wesley mengajarkan adanya dosa warisan namun kerusakan manusia sebagai gambar ALLAH tidak total (Bandingkan dengan ajaran Calvin yang mengatakan bahwa manusia sebagai gambara ALLAH telah rusak total ). Pada waktu manusia jatuh ke dalam dosa, yang rusak total adalah moral image (kebenaran, kesucian, kasih sedangkan natural image (spiritualitas, intelektualitas, kebebasan kehendak, ketidakfanaan dan kemampuan menguasai ciptaan ) tidak hilang. Menurut Wesley, keselamatan adalah restorasi moral image yang hilang.

b.       Keselamatan.
Keselamatan adalah anugerah ALLAH (sola gratia). Keselamatan diterima oleh manusia karena anugerah pembenaran ALLAH yang mengampuni dosa manusia dan diterima oleh iman, bukan karena perbuatan manusia. Anugerah pembenaran ini menjadikan manusia memasuki lembaran hidup baru yaitu bertobat, percaya dan berbalik dari dosa masuk ke dalam hidup bersama ALLAH.

c.       Kelahiran Kembali ( lahir baru )
Ini adalah tindakan ALLAH yang melaluinya seseorang dibawa masuk ke dalam Kerajaan-Nya dan mengalami perubahan di dalam hati. Hanya dengan mengalami kelahiran kembali inilah seseorang bisa menjadi Kristen yang sungguh-sungguh. Hal menjadi Kristen bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan orang untuk dirinya, melainkan dikerjakan ALLAH baginya. Karenanya setiap orang harus bekerjasama dengan ALLAH dengan cara bertobat dari dosa-dosa di masa lalu dan dengan sungguh-sungguh bertekad menjalani hidup baru.

d.       Kesaksian Roh
Roh Kudus di dalam hati orang beriman dapat dan memang memberinya jaminan yang pasti bahwa ia adalah anak Allah.  Inilah yang disebut John Wesley dengan kesaksian Roh.

e.       Penebusan Universal.
Berbeda dari Calvin yang menyatakan bahwa Allah melalui penebusan Kristus hanya menyelamatkan orang-orang yang telah lebih dahulu ditetapkan dan dipilih-Nya, Wesley dan umat Methodist menegaskan bahwa penebusan dan keselamatan disediakan Allah bagi semua orang yang mau menerimanya. Kristus mati untuk semua orang. Pengharapan dan janji bukanlah hanya untuk sekelompok orang, melainkan untuk setiap orang.

f.         Jatuh dan kehilangan kasih karunia.
Kendati penebusan dan keselamatan disediakan bagi semua orang dan kendati seseorang telah menerimanya, bisa saja bahwa pada akhirnya ia kehilangan kasih karunia Allah itu sebab bisa saja pada akhir hidupnya ia murtad. Dengan ini sekaligus ditolak pandangan Calvin, bahwa bila seseorang telah ditetapkan dan dipilih Allah sejak semula untuk selamat, ia tidak mungkin kehilangan keselamatan itu. Karena adanya kemungkinan untuk jatuh dan kehilangan kasih karunia ini, maka gereja Metodis selalu mengingatkan umat beriman agar waspada dan berdoa, agar jangan jatuh ke dalam pencobaan.

g.       Kesucian dan kesempurnaan hidup kristiani
Kesucian dan kesempurnaan hidup harus dikejar terus menerus sepanjang hidup ini, sebab kesucian dan kesempurnaan itu suatu proses. Kesucian dan kesempurnaan hidup lebih ditekankan pada kesempurnaan motivasi dan kerinduan.

h.       Penginjilan dan Semangat Injil
Gereja Methodist mendorong umatnya agar memiliki semangat penginjilan. Setiap jemaat lokal harus punya perhatian dan upaya konkret di bidang ini. Tujuan terutama adalah menjangkau orang yang belum mendengar Injil agar pada akhirnya sebanyak mungkin orang mendapat tempat di dalam Kerajaan Allah yang dipenuhi dengan damai sejahtera. Metode penginjilan bisa bermacam-macam tetapi prinsipnya tetap sama: mengkomunikasikan kebenaran Allah kepada manusia. Diantara sekian banyak metode, yang sering digunakan adalah kotbah kebangunan rohani (revival preaching) dan perkunjungan penginjilan ( visitation evangelism )

i.         Izin untuk mengangkat sumpah.
Wesley dan umat Metodis menegaskan bahwa orang Kristen dapat mengangkat sumpah. Mereka yakin bahwa Alkitab tidak melarang orang Kristen melakukan hal itu di hadapan pemerintah dan pengadilan, asalkan sumpah itu sesuai dengan iman, kasih di dalam keadilan dan kebenaran.

Bagaimanakah sistem organisasi atau sistem pemerintahan gereja Methodist?

GMI menganut sistem episkopal. Dalam organisasinya, lembaga tertinggi adalah Konferensi Agung sedangkan pimpinan eksekutif tertinggi adalah seorang Bishop. Bishop bersama para pimpinan Distrik membentuk kabinet, dan untuk pekerjaan di kantor pusat didampingi sejumlah staf. Di lapangan, secara hierarkhis terdapat Konferensi Distrik yang dipimpin Pimpinan Distrik, Konferensi Resort yang dipimpin Pendeta Resort dan Konferensi Jemaat yang dipimpin Majelis jemaat ( termasuk di dalamnya pendeta jemaat dan guru Injil )

Perlu diketahui pula bahwa aliran Methodist masuk dalam kategori arus utama di lingkungan Protestan, karena memelihara dan mempertahankan sebagian besar ajaran para reformator. Sejak awal gereja Methodist aktif dalam gerakan oikoumene sedunia.

Demikianlah perkenalan kita dengan gereja Methodist, semoga semakin memperkaya khasanah pengenalan kita pada keanekaragaman gereja..

0 komentar:

Poskan Komentar